Sunday, September 6, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Pemimpin Dunia, Akademisi dan Anak Muda Berkumpul di Bali Bahas Masa Depan AI dan Kemanusiaan

BALI — Para pemimpin, akademisi, tokoh lintas agama, inovator teknologi, pembuat kebijakan, dan anak muda dari berbagai negara berkumpul di Bali untuk membahas masa depan kecerdasan buatan (AI) sekaligus memastikan perkembangan teknologi tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam rangkaian World Encounter Summit 2026, yang mempertemukan XI International Scholas Chairs Congress 2026 dan Young Changemakers Programme (YCP) di United In Diversity (UID) Bali Campus dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali pada 4–6 September 2026.

Forum ini mengangkat pertanyaan mendasar mengenai bagaimana AI dapat dikembangkan dan dimanfaatkan untuk memperkuat martabat manusia, persaudaraan antarbangsa, serta perdamaian dunia.

Pertemuan tersebut menjadi bagian dari Bali Harmony Encounter Week 2026, sekaligus menjadi awal dari inisiatif AI World Congress Bali. Sebelumnya, Bali Harmony Dialogue digelar pada 3 September 2026 di UID Bali Campus dengan mempertemukan perwakilan pemerintah, organisasi internasional, perusahaan teknologi global, akademisi, sektor swasta, masyarakat sipil, dan komunitas lokal.

Forum tersebut menilai perkembangan AI membawa peluang besar untuk pembangunan berkelanjutan, kemakmuran yang lebih inklusif, serta penyelesaian berbagai tantangan global. Namun, manfaat teknologi tersebut dinilai belum dirasakan secara merata.

Kesenjangan masih terjadi dalam akses terhadap data, daya komputasi, infrastruktur digital, talenta, kapasitas tata kelola, serta kemampuan masyarakat dan negara untuk menentukan bagaimana AI dikembangkan dan digunakan.

Karena itu, menjembatani kesenjangan AI tidak hanya dipandang sebagai persoalan teknologi, tetapi juga menyangkut dimensi moral, sosial, ekonomi, dan lingkungan.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional Republik Indonesia, Luhut B. Pandjaitan, menekankan pentingnya membangun kapasitas nasional agar Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi AI, tetapi mampu menjadi pencipta dan pemain global.

“Tri Hita Karana mengajarkan keseimbangan antara manusia, alam dan Tuhan—sebuah prinsip yang tidak hanya bersifat spiritual, tetapi juga mencakup ekonomi yang cerdas. Melalui perpaduan AI bertenaga energi bersih dan pendidikan STEM, kita membangun kapasitas nasional agar Indonesia berdiri sendiri sebagai pencipta global, bukan sekadar konsumen,” ujar Luhut.

Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia Meutya Hafid mengatakan Indonesia telah memiliki tingkat adopsi AI yang cukup pesat, khususnya di kalangan generasi muda. Namun, tingginya penggunaan teknologi tersebut harus diikuti dengan penguatan kapasitas nasional melalui kebijakan, riset, talenta, dan infrastruktur.

“Indonesia tidak memulai dari nol mengingat pesatnya adopsi AI di kalangan generasi muda, namun tingkat penggunaan saja tidak otomatis menjadi kapasitas nasional,” kata Meutya.

Menurut dia, pengembangan ekosistem AI di Indonesia perlu diarahkan agar teknologi tidak hanya meningkatkan produktivitas dan pelayanan publik, tetapi juga memberdayakan masyarakat.

Wakil Presiden United In Diversity Foundation Suyoto menilai Bali memiliki posisi strategis sebagai tempat mempertemukan gagasan mengenai teknologi dengan nilai-nilai spiritual dan keberlanjutan.

“Pekan Bali Harmony Encounter menyatukan gagasan global dan lokal untuk memperkuat nilai-nilai spiritual sebagai jangkar peradaban. Bali adalah tempat terbaik, di mana keharmonisan antara manusia, alam dan spiritualitas sungguh tumbuh subur,” ujar Suyoto.

Direktur Eksekutif Scholas Occurrentes Maria Paz Jurado menegaskan bahwa tantangan AI bukan semata-mata mengenai seberapa jauh teknologi dapat berkembang, tetapi juga mengenai manusia seperti apa yang ingin dibangun bersama teknologi tersebut.

Menurut dia, perkembangan AI harus tetap menjaga aspek yang tidak dapat digantikan oleh mesin, seperti hati nurani, kebebasan, belas kasih, pencarian makna, dan hubungan antarmanusia.

“Setiap pribadi adalah unik dan tidak tergantikan,” ujarnya, seraya menekankan pentingnya pendidikan yang mampu mengarahkan kecerdasan manusia sekaligus kecerdasan buatan agar kemajuan teknologi memperkuat martabat, persaudaraan, dan perdamaian.

Forum Global Bahas Dampak AI

XI International Scholas Chairs Congress 2026 dirancang sebagai “Forum of Forums”, yang mempertemukan jaringan global untuk membahas dampak AI terhadap berbagai aspek kehidupan.

Topik yang dibahas mencakup pendidikan, masa depan dunia kerja, koeksistensi sosial, kesehatan mental, demokrasi, hingga pencarian makna di kalangan generasi muda.

Forum tersebut mempertemukan pemimpin muda dari lima benua dengan pemerintah, tokoh lintas agama, inovator teknologi, serta akademisi dari 140 perguruan tinggi di 70 negara.

Pada hari pertama, 4 September, agenda berfokus pada upacara pembukaan dan sesi Agora dengan tema “Apakah kita menyadari masa depan yang sedang kita ciptakan?” serta “Siapa saya di era AI?”.

Hari kedua, 5 September, membahas tata kelola AI yang beretika, kesehatan mental anak muda, literasi digital, dan pendidikan berbasis kearifan.

Sementara pada hari ketiga, 6 September, pembahasan diarahkan pada masa depan tenaga kerja manusia, redistribusi kesejahteraan, pembaruan demokrasi, serta perdamaian dunia dan diakhiri dengan seruan aksi bersama.

Menghubungkan AI dengan Kearifan Lokal

Salah satu pendekatan yang digunakan dalam forum adalah metode Agora, yang terinspirasi dari ruang publik Yunani kuno sebagai tempat masyarakat berkumpul, berdialog, menguji gagasan, dan membangun pemahaman bersama.

Melalui pendekatan tersebut, peserta diajak mengidentifikasi kapasitas manusia yang tidak mudah digantikan oleh AI, termasuk pemikiran kritis, kreativitas, etika digital, dan partisipasi demokratis.

Forum juga berlangsung bertepatan dengan momentum dua tahun perjalanan apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia dan Deklarasi Istiqlal 2024 yang menekankan dialog antaragama, persaudaraan kemanusiaan, dan tanggung jawab bersama terhadap bumi.

Nilai-nilai tersebut dipertemukan dengan filosofi Bali Tri Hita Karana, yang menekankan keselarasan hubungan manusia, alam, dan Tuhan.

Selain XI International Scholas Chairs Congress, rangkaian Bali Harmony Encounter Week juga menghadirkan 2026 International Conference on Indigenous Knowledges, Systems, Wisdom & Technology, yang diselenggarakan Tsinghua Southeast Asia Center bersama Universitas Udayana dan School of Cybernetics, Australian National University.

Konferensi tersebut memperluas diskusi mengenai teknologi dengan memasukkan perspektif pengetahuan adat, kearifan tradisional, dan tata kelola ekologis.

Anak Muda Disiapkan Menjadi Penggerak Perubahan

Di sisi lain, Young Changemakers Programme (YCP) menghadirkan peserta berusia 18–24 tahun dalam program pembelajaran berbasis pengalaman.

Program tersebut tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi mendorong peserta mengembangkan kepemimpinan berbasis kesadaran melalui dialog dan pengalaman langsung.

Peserta diajak menjawab sejumlah pertanyaan mendasar, mulai dari bagaimana memahami identitas manusia di tengah otomatisasi, bagaimana membangun empati terhadap realitas orang lain, hingga seperti apa masa depan berkelanjutan dan regeneratif yang dapat dibangun bersama.

Mengacu pada pendekatan Scholas Occurrentes, University of Meaning, dan Global Humanity for Peace Institute, peserta YCP didorong mengubah gagasan menjadi aksi nyata berbasis komunitas.

Program ini menempatkan AI bukan semata sebagai instrumen komersial, melainkan sebagai teknologi yang harus diarahkan untuk mendukung martabat manusia, keadilan sosial, dan perubahan sistemik.

World Encounter Summit dan Young Changemakers Programme diselenggarakan melalui kolaborasi Scholas Occurrentes, University of Meaning, Global Humanity for Peace Institute, Guerrand-Hermes Foundation for Peace, dan United In Diversity Foundation.

Rangkaian Bali Harmony Encounter Week 2026 juga mendapat dukungan dari sejumlah mitra korporasi dan institusi, antara lain Astra, Pertamina, Freeport Indonesia, Bank Rakyat Indonesia (BRI), Danantara, Sinar Mas, PT Gajah Tunggal Tbk., dan KEK Kura Kura Bali.***

Popular Articles