Friday, November 6, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Bali Utara Didorong Jadi Pusat Ekonomi Baru, Konektivitas dan Penguatan Sektor Unggulan Jadi Strategi Utama

SINGARAJA,The East Indonesia – Pemerataan ekonomi Bali menjadi salah satu fokus pembahasan dalam kegiatan BALINOMICS Triwulan III yang melibatkan Pemerintah Kabupaten Buleleng, Bank Indonesia, akademisi, serta sejumlah pemangku kepentingan dari tingkat provinsi hingga pusat.

Dalam pembahasan tersebut, Bali Utara didorong untuk berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Demikian terungkap dalam Forum Group Discussion (FGD) Balinomics yang mengambil tajuk Penguatan Sumber Pertumbuhan Ekonomi Bali di Rumah Jabatan Bupati Buleleng, Kamis, (5/11).

Mewakili Bupati Buleleng, Asisten II Setda Buleleng, Putu Ayu Reika Nurhaeni, menyampaikan bahwa salah satu strategi utama pemerataan ekonomi Bali adalah memperkuat konektivitas antara wilayah utara dan selatan. Upaya tersebut perlu didukung dengan penataan kawasan, pengembangan sumber daya manusia (SDM), serta penyediaan infrastruktur yang mampu menunjang aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurutnya, pengembangan ekonomi Bali Utara harus dilakukan secara terintegrasi dengan sektor-sektor unggulan daerah, seperti pertanian, perikanan, dan kebudayaan. Selain itu, pengembangan pariwisata juga perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga mendorong peningkatan lama tinggal wisatawan sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.

“Pengembangan pariwisata bukan hanya untuk jumlah wisatawan, tetapi juga untuk lama mereka tinggal. Dengan demikian, seluruh aktivitas tersebut dapat memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Namun, kita tetap harus menjaga ekosistem pesisir dan lingkungan lainnya,” ungkapnya.

Asisten Reika menegaskan, konektivitas sektor pariwisata, kelautan, dan pertanian merupakan elemen penting dalam strategi pengembangan ekonomi di Buleleng khususnya. Strategi tersebut juga harus disertai target dan indikator pencapaian yang terukur agar pelaksanaannya dapat dievaluasi secara berkelanjutan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Achris Sarwani, menjelaskan bahwa pembahasan BALINOMICS telah melalui beberapa tahapan FGD. Terdapat empat fokus utama yang menjadi perhatian, yakni pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi Bali, pemerataan investasi dan pembangunan infrastruktur, penguatan UMKM serta sektor produksi komoditas pangan, dan pengembangan potensi ekonomi Bali Utara.

Achris Sarwani menyebutkan, pariwisata memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian Bali sehingga perlu didukung dengan berbagai langkah strategis. Hasil diskusi mengenai sektor tersebut turut mendorong dihidupkannya kembali forum Selasa Pariwisata sebagai wadah pembahasan berbagai persoalan dan upaya pengembangan pariwisata secara lebih mendalam.

Selain itu, pemerataan investasi dan pembangunan infrastruktur juga menjadi pekerjaan rumah bersama. Sebab, aktivitas investasi yang belum merata antara Bali Selatan dan Bali Utara perlu mendapatkan perhatian agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara lebih seimbang di seluruh wilayah Bali.

Pada aspek penguatan UMKM dan sektor produksi, perhatian juga diarahkan pada pengembangan komoditas pangan dan kebutuhan sehari-hari yang memiliki keterkaitan erat dengan upaya pengendalian inflasi.

Pihaknya menambahkan, pemilihan Bali Utara sebagai fokus pembahasan kali ini merupakan tindak lanjut dari rangkaian diskusi sebelumnya. Menurutnya, potensi Bali Utara perlu dilihat secara langsung untuk memahami kondisi, peluang, sekaligus tantangan yang dihadapi dalam pengembangan ekonomi daerah.

Salah satu potensi yang turut disoroti adalah pengembangan industri pengolahan berbasis hasil pertanian dan kelautan. Industri ini dinilai memiliki peluang besar dalam meningkatkan nilai tambah komoditas lokal melalui pengembangan produk ekstrak alami dengan dukungan teknologi dan inovasi.

Melalui contoh pengembangan industri pengolahan tersebut, diharapkan Bali Utara dapat memiliki model pengembangan ekonomi yang mampu meningkatkan nilai tambah produk lokal, membuka peluang usaha, serta memperluas kesempatan ekonomi masyarakat. Di sisi lain, seluruh pengembangan industri tetap harus memperhatikan kelestarian lingkungan agar tidak mengganggu daya tarik pariwisata Bali.

“Harapannya, ini menjadi semangat bersama untuk mendorong pengembangan industri pengolahan yang memberikan nilai tambah, tetapi tetap menjaga lingkungan Bali. Potensi ekonomi harus dikembangkan tanpa merusak alam yang menjadi salah satu kekuatan utama pariwisata Bali,” jelas Achris Sarwani.

Melalui BALINOMICS Triwulan III ini, sinergi antara pemerintah daerah, Bank Indonesia, akademisi, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya diharapkan mampu merumuskan langkah konkret dalam mempercepat pemerataan ekonomi. Dengan penguatan konektivitas, investasi, sektor produksi, dan industri pengolahan, Bali Utara diharapkan semakin berkembang sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.(Wis)

Popular Articles