Tuesday, August 11, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Serap Aspirasi di Jenilu, Anggota DPRD Belu Wandelina Sally Tampung Keluhan Abrasi Pantai

ATAMBUA, The East Indonesia – Anggota DPRD Kabupaten Belu dari Fraksi Partai Gerindra, Wandelina Happy Sally, SE menggelar kegiatan reses di Raikatar, Dusun Fatukaduak, Desa Jenilu, Kecamatan Kakuluk Mesak, Kabupaten Belu, pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Dalam pertemuan tersebut, warga Raikatar memanfaatkan momen untuk mengeluhkan ancaman abrasi pantai atau erosi laut akibat hantaman ombak dan arus laut yang kian merusak daratan pemukiman mereka.

Di hadapan srikandi Partai Gerindra tersebut, salah satu warga terdampak, Rini Habi (37), menumpahkan kekhawatirannya.

Istri dari seorang nelayan setempat ini mengeluhkan hantaman gelombang laut yang kini mengancam keberadaan tempat tinggal mereka.

“Gelombang air ini, kami punya rumah bisa hancur semua. Jadi kami hanya minta di pemerintah dari Pusat juga minta bantuan untuk penembokan atau ke apa?” ujar Rini dihadapan media.

Rini menjelaskan bahwa kerusakan akibat pengikisan garis pantai tersebut sudah berada pada kondisi yang sangat mengkhawatirkan.

Beberapa hunian warga bahkan dilaporkan sudah roboh dan tidak bisa digunakan lagi.

“Dalam ini tahun kalau sudah gelombang lagi, hancur sudah. Rumah yang bagian ujung sudah hancur. Kami dengan Ibu Dewan (Wandelina Sally), kami juga ada minta untuk hal ini,” tambahnya.

Menurut pengakuan Rini, fenomena abrasi ini bukan merupakan masalah baru bagi masyarakat setempat melainkan ancaman tahunan yang terus berulang tanpa solusi permanen.

“Ini sudah berlangsung lama. Untuk tahun lalu saja kami beli karung-karung berukuran besar. Sudah banyak kami punya uang keluar untuk ini. Tapi tetap dia rubuh juga,” jelasnya saat ditanya mengenai durasi bencana tersebut.

Rini juga memaparkan bahwa ancaman gelombang tinggi tidak hanya terjadi pada musim-musim tertentu saja, melainkan setiap kali siklus bulan purnama tiba.

“Biasanya Musim barat bulan Desember, Januari, Februari tapi biar kalau bukan musim barat, kalau pas bulan purnama, toh tetap gelombang,” urainya.

Kondisi ekstrim ini memaksa warga sekitar untuk mengungsi dan demi menghindari korban jiwa akibat terjangan air laut.

“Gelombang air laut datang, tetangga yang lain airnya masuk dalam rumah sehingga ada rumah yang sudah dibongkar dan pindah dan sewa tanah lain untuk tinggal,” katanya.

Saat ini, terdapat sekitar 10 Kepala Keluarga (KK) di area tersebut yang posisinya sangat rentan dan terdampak langsung oleh terjangan ombak.

“Kami tinggal disini ada yang tinggal sekitar 10 tahu dan ada yang 2 tahun disini,” sebut Rini.

Selain masalah abrasi pantai yang mengancam pemukiman, Rini yang merupakan seorang ibu rumah tangga dengan suami yang berprofesi sebagai nelayan, juga mengeluhkan kesulitan ekonomi lain terkait pemenuhan kebutuhan energi harian dan operasional melaut.

Mendengar keluhan tersebut dari konstituennya, Anggota DPRD Kabupaten Belu, Wendelina Happy Sally, mengatakan bahwa penanganan abrasi pantai membutuhkan anggaran yang besar dan keterlibatan lintas sektor karenanya dirinya berjanji akan membawa persoalan ini ke tingkat Pemerintah Daerah sehingga diteruskan ke Pemerintah Provinsi NTT maupun Pemerintah Pusat.

Selain itu, saat melaksanakan reses di Desa Kenebibi, masyarakat pesisir pantai menyampaikan aspirasi mereka kepada Anggota DPRD Kabupaten Belu dari Fraksi Partai Gerindra, Wandelina Happy Sally.

Warga nelayan setempat mengharapkan bantuan berupa rumpon tuna dan cool box (kotak pendingin) untuk mendukung produktivitas tangkapan ikan mereka.

Di sisi lain, masyarakat juga mengeluhkan kondisi air minum di wilayah tersebut yang terasa payau. Sebagai solusinya, mereka mengusulkan pengadaan fiber penampung air bersih. Tangki penampungan ini sangat dibutuhkan agar warga bisa membeli air tangki yang layak guna memenuhi kebutuhan memasak dan minum sehari-hari.(Ronny)

Popular Articles