Saturday, August 15, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Ubud Folkfest 2026, Jembatan Komunitas Kreatif, Musisi, Seniman dan Budayawan

Gianyar, The East Indonesia – Ubud Folkfest kembali digelar selama dua hari di Biji World Ubud , Bali. Agenda rutin tahunan itu selalu menjadi jembatan antara komunitas kreatif, music, seni dan budaya nusantara.

Salah satu Founder Ubud Folkfest, Sara Hadi menuturkan, pesta rakyat ini dimulai sejak lima tahun yang lalu. Berawal dari sebuah perayaan musik kultur dari kelompok kreatif lokal Bali maupun nusantara, kemudian dirangkai degan perpaduan seni dan budaya.

“Saya teringat tahun pertama kami. Saat kami menyadari apa yang bisa kami ciptakan di sini. Ada seniman yang melukis di tengah area Biji World sementara musisi tampil di panggung, dan di galeri, seniman lain sedang membuat sketsa arang secara langsung. Saya masih merasa terharu saat mengenang energi kreatif yang berhasil kami bangkitkan di ruang ini, dan terutama komunitas yang tumbuh di sekitarnya,” tuturnya saat jumpa pers jelang pembukaan Ubud Folkfest, Jumat (14/08/2026) petang.

Menurut Sara, dengan digelarnya Ubud Folkfest rutin ini, warga lokal, turis maupun komunitas kreatif bertemu dan menjalin persahabatan di sini.

“Sebagian dari kami bahkan mendapatkan sahabat seumur hidup berkat festival ini. Itu adalah hal yang sungguh istimewa,” ujarnya.

Sara mengaku, Ubud Folkfest ini dibiayai dari niat baik pemilik Biji World, Ida Bagus Oka yang menyambut baik ide pesta rakyat ini. Kemudian berkembang dan merangkul komunitas kreatif, musisi dan seniman.

“Selama beberapa hari penyelenggaraannya, Ubud FolkFest menjadi sebuah dunia kecil tersendiri. Sebuah mikrokosmos dari sisi kreatif Ubud yang terhimpun di satu tempat,” ungkapnya.

Sementara pemilik Biji World Ubud yang juga salah satu founder Ubud Folkfest mengatakan, sebagai masyarakat adat dan berbudaya tentunya perlu merawat bersama seni dan budaya. Namun demikian, hamper sebagian besar dipelopori masyarakat karena minimnya keterlibatan pemerintah dan kecenderungan mengabaikan nilai magis.

“Selama ini, merawat seni dan budaya ini hanya sebatas slogan. Seni Bali ada seni kontemporer dan dasar dari semua instalasi. Kenapa pemerintah mengambil sesuatu yang sakral menjadi perlombaan. Sehingga kehilangan nilai magis,” kata Ida Bagus Oka.

Oleh karena itu, sosok yang juga inisiator dan perancang Titi Batu Club Ubud ini berharap, kehadiran pemerintah dalam memberikan support dalam bentuk anggaran pada kegiatan komunitas kreatif, musii, seniman serta budayawan.

“Tujuan utama mendukung kreatifitas. Tanpa kreatifitas menjadi budaya yang stagnan. Kreatifitas semuanya bertujuan transaksional. Gak ada yang festival yang selalu berkaitan agama norma, tapi dia lupa bahwa dasar semua budi pekerti.

Sementara Festival Director, Rizal Hadi menjelaskan awal muasal nama Ubud Folkfest. Menurutnya penamaan event ini berangkat pemahaman folk berarti rakyat dan festival adalah pesta.

“Jadi, secara sederhana, Ubud FolkFest adalah pesta rakyat yang dibuat di Ubud. Kalau kita bicara tentang pesta rakyat, berarti kita juga bicara tentang bagaimana merangkul berbagai komunitas yang ada di Ubud. Dan sebenarnya, salah satu alasan mengapa Ubud FolkFest bisa terus berjalan secara berkelanjutan adalah karena dukungan komunitas-komunitas tersebut,” papar Rizal.

Rizal mengakui, tim Ubud Folkfest tidak banyak, namun bantuan dan dukungan komunitas kreatif menjadi salah satu kekuatan terbesar festival ini.

“Ketika seseorang meninggalkan Ubud FolkFest, kami ingin ada memori yang tertinggal di kepala mereka—tentang musik yang bagus, karya seni yang mereka temukan, pertunjukan budaya yang mereka saksikan, dan pengalaman yang mereka rasakan selama berada di festival,” ujarnya.

Ubud FolkFest ke-5 tahun 2026 ini menghadirkan kombinasi musisi dari Bali, berbagai daerah di Indonesia, hingga 3 musisi mancanegara yakni Managona, Australia dan New Zealand.

Deretan musisi dan kelompok yang akan tampil di Ubud FolkFest 2026 antara lain: NAVICULA, Iksan Skuter, Ary Juliyant, Anda Perdana, Catur Hari Wijaya & The Sound Nomads, Supa Kalulu, Managona (Taiwan), SUNZ (New Zealand), Tanya George (Australia), Orasare, Abink Ferry, WLBY, Tarawangsa, Nata Swara, Neo Nolin, Celticroom Bali, Aji Sang Aji, Kerta Art, Pondok Pekak

Selain musik, seni visual menjadi salah satu bagian utama dari Ubud FolkFest 2026. Art gallery festival akan menampilkan berbagai karya diantaranya; Made Bayak, Daniel Kho, Linkan Palenewen, Putu Eni, Dedi Junaedi, Bandrek, Chay [alm], I.B. Rekha, Ayu Sri Rejeki, Sofiya Shukhova, Arina Proboningtyas

Pameran ini menghadirkan berbagai pendekatan, medium, dan perspektif dari para seniman dengan latar belakang yang beragam, sekaligus memperkuat posisi seni visual sebagai bagian penting dari ekosistem kreatif Ubud.

Selain itu, salah satu program khusus dalam Ubud FolkFest 2026 adalah Fast Forward Ubud. Sebuah sesi berbagi inspirasi dengan konsep yang menghadrikan enam orang pembicara dengan latar belakang dan keahlian yang berbeda diantaranya;

Entrepreneur Motivational Speaker, Sandrina Malakiano , Co-founder of RTB (Rumah Tanjung Bungkak), Rudolf Dethu ,  Musician, Vocalist of Manja, James Sukadana dan Shinta Retnani , Documentary Filmmaker, Visual Anthropologist, Gede Robi Navicula Musician, Farmer, Activist Mark Feldman, Art Collector & Investor.

Fast Forward dirancang sebagai ruang untuk mendengarkan cerita-cerita personal yang dapat membuka perspektif baru, memantik ide, dan menginspirasi, (*)

Popular Articles