Thursday, August 27, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Setelah MoU, PT BIBU Panji Sakti Teken Kontrak Pembelian Tiga N219 Amfibi dari PTDI

BANDUNG, The East INdonesia — Kerja sama PT BIBU Panji Sakti dengan PT Dirgantara Indonesia (PTDI) memasuki tahap baru. Setelah sebelumnya dituangkan dalam nota kesepahaman (MoU), rencana pembelian tiga pesawat N219 kini ditingkatkan menjadi kontrak pembelian. Penandatanganan kontrak dilakukan di kantor PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Rabu (26/8/2026).

Kontrak tersebut menandai langkah konkret PT BIBU Panji Sakti untuk membangun ekosistem logistik udara berbasis maritim, sehubungan dengan pembangunan bandara internasional di Bali Utara di perairan Kubutambahan, Buleleng. Tiga pesawat yang dibeli yaitu N219 Amfibi, pesawat produksi dalam negeri yang dikembangkan PTDI untuk dapat beroperasi di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur landasan.

Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti, Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo, mengatakan peningkatan MoU menjadi kontrak pembelian merupakan bentuk keseriusan perusahaan dalam membangun rantai pasok hasil laut yang menghubungkan sentra produksi dengan pasar. “Ini bukan lagi sekadar rencana. Dengan ditandatanganinya kontrak pembelian, kami masuk ke tahap implementasi. Kami ingin membangun sistem logistik yang menghubungkan laut dan udara sehingga hasil perikanan dari wilayah-wilayah kepulauan dapat bergerak lebih cepat menuju pasar,” kata Erwanto.

Menurut dia, karakter geografis Indonesia membutuhkan model transportasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada pembangunan infrastruktur darat. N219 Amfibi memberikan pilihan karena dapat beroperasi dari landasan darat sekaligus permukaan air.

“Bagi Indonesia, khususnya wilayah timur, kecepatan adalah bagian penting dari nilai ekonomi komoditas laut. Ikan segar, tuna kualitas ekspor, live seafood, dan komoditas laut bernilai tinggi tidak bisa terlalu lama menunggu. Karena itu, kami membutuhkan moda transportasi yang bisa mendekatkan sentra produksi dengan pasar,” ujar Erwanto.

Tiga pesawat tersebut nantinya akan dioperasikan oleh PT BIBU Agro Maritim, anak usaha PT BIBU Panji Sakti yang bergerak dalam pengembangan dan pengelolaan rantai pasok komoditas maritim.

Direktur Utama PT BIBU Agro Maritim, Anak Agung Ngurah Alit Kakarsana, juga menjelaskan bahwa karakter komoditas perikanan bernilai tinggi membuat distribusi menjadi persoalan waktu. N219 diharapkan menjadi penghubung antara wilayah produksi dengan pusat perdagangan dan pasar ekspor.

Menurut Kakarsana produk seperti live seafood dan tuna kualitas sashimi-grade membutuhkan sistem distribusi yang cepat agar memperoleh nilai terbaik di pasar. N219 akan digunakan untuk membawa potensi perikanan dari kawasan timur Indonesia menuju pasar yang lebih luas.

Dari MoU ke Kontrak Pembelian
Kerja sama BIBU Panji Sakti dan PTDI sebenarnya telah dimulai sejak Desember 2025. Ketika itu, kedua perusahaan menandatangani MoU pengadaan tiga unit N219 konfigurasi kargo di Hanggar Aircraft Services PTDI, Bandung. Ketika itu, MoU tersebut ditandatangani Direktur Utama PT BIBU Panji Sakti Erwanto Sad Adiatmoko Hariwibowo bersama Direktur Niaga, Teknologi dan Pengembangan PTDI Moh Arif Faisal.

Dalam kesepakatan awal itu, N219 dirancang sebagai feeder aircraft yang mengumpulkan komoditas laut dari berbagai titik di Bali sebelum diteruskan menuju penerbangan berkapasitas lebih besar untuk pasar ekspor.
PTDI saat itu juga menyatakan bahwa kerja sama tersebut akan dilanjutkan dengan kajian mengenai rute potensial, volume kebutuhan, aspek teknis dan ekonomi, serta rekomendasi operasional.

Setelah sekitar delapan bulan, kerja sama tersebut kini bergerak dari tahap kesepahaman menuju kontrak komersial.

Bagi PTDI, perkembangan ini juga menjadi bagian dari proses komersialisasi N219. Pada Mei 2026, PTDI telah menandatangani kontrak penjualan empat N219 dengan PT Mitra Aviasi Perkasa untuk mendukung angkutan kargo di wilayah perintis.

Direktur Utama PTDI Marsda TNI (Purn.) Gita Amperiawan mengatakan penguatan pasar N219 tidak hanya penting bagi keberlanjutan industri pesawat nasional, tetapi juga untuk membuktikan bahwa produk dirgantara Indonesia dapat menjawab kebutuhan riil di dalam negeri. “Kontrak ini menunjukkan bahwa N219 bukan hanya sebuah produk teknologi, tetapi mulai menjadi solusi nyata bagi kebutuhan konektivitas Indonesia. Kami melihat kebutuhan yang besar untuk pesawat yang mampu beroperasi di wilayah kepulauan, daerah terpencil, maupun kawasan yang memiliki keterbatasan infrastruktur,” kata Gita.

Menurut Gita, kerja sama dengan sektor swasta seperti dengan PT BIBU Panji Sakti juga memperlihatkan bahwa pengembangan industri dirgantara nasional membutuhkan ekosistem yang lebih luas. Produsen pesawat, operator, pengguna jasa, pemerintah, serta sektor usaha harus bergerak dalam satu rantai nilai.

Pesawat untuk Ekonomi Biru
N219 Amfibi memiliki karakter yang berbeda dari pesawat komersial konvensional. Selain dapat beroperasi di landasan darat, varian amfibi dikembangkan untuk dapat lepas landas dan mendarat di permukaan air. Pesawat ini memiliki kapasitas hingga 19 penumpang dan dapat dikonfigurasi untuk berbagai kebutuhan, termasuk kargo, evakuasi medis, patroli maritim, dan SAR. Kemampuan tersebut dinilai relevan dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan.

Dalam dokumen teknis terkait N219 Amfibi, pesawat tersebut juga diproyeksikan dapat mendukung distribusi komoditas laut dari wilayah terpencil karena dapat mendekati kawasan pesisir atau sentra perikanan tanpa selalu bergantung pada pembangunan landasan konvensional.

Karena itu, bagi PT BIBU Panji Sakti, pembelian tiga pesawat tersebut tidak berdiri sendiri. Armada itu ditempatkan sebagai bagian dari rencana yang lebih besar untuk mengembangkan rantai pasok ekonomi biru – termasuk dalam blue print Bandara Internasional Bali Utara yang letaknya di perairan Kubu Tambahan, Buleleng.

Erwanto mengatakan orientasinya adalah menciptakan sistem yang membuat produk laut Indonesia tidak berhenti pada pasar lokal, tetapi dapat bergerak cepat menuju pasar bernilai tinggi.

“Kami ingin nelayan dan pelaku usaha perikanan mendapatkan nilai tambah yang lebih besar. Jangan sampai produk yang memiliki kualitas ekspor kehilangan nilainya hanya karena persoalan distribusi,” ujarnya.

Dengan kontrak pembelian ini, kerja sama PT BIBU Panji Sakti dan PTDI memasuki babak baru. Jika pada 2025 kerja sama masih berupa komitmen untuk mengembangkan model pengangkutan komoditas laut, pada 2026 komitmen tersebut mulai diwujudkan melalui pengadaan armada.

Bagi PT BIBU Panji Sakti, tiga N219 Amfibi itu diharapkan menjadi salah satu simpul dalam jaringan logistik laut-udara yang menghubungkan Bali dan kawasan Indonesia Timur dengan pasar domestik maupun internasional.

Sementara bagi PTDI, kontrak tersebut memperkuat posisi N219 sebagai produk industri dirgantara nasional yang tidak hanya dikembangkan untuk kebutuhan konektivitas, tetapi juga mulai menemukan ceruk pasar komersial melalui kebutuhan spesifik Indonesia sebagai negara kepulauan.(Wis)

Popular Articles