Atambua, Theeast.co.id – Sesuai dengan penambahan Sampel dalam program Kerangka Sampel Area (KSA) oleh Pemerintah Pusat maka pada tahun 2019, Badan Pusat Statistik bukan saja mendata lahan persawahan tetapi juga akan mendata lahan-lahan palawija. Berdasarkan kebijakan tersebut maka Badan Pusat Statistik kabupaten Belu sendiri telah menargetkan lahan jagung menjadi pendataan tambahan lahan palawija di wilayah yang berbatasan dengan Negara Republik Demokratik Timor Leste ini. Hal ini diungkapkan oleh Kepala Badan Pusat Statistik kabupaten Belu Yustinus Siga saat ditemui awak media ini di ruang kerjanya, Rabu (27/02/2018). “Direncanakan pada tahun ini sekitar bulan Maret, sampel KSA akan ditambahkan untuk palawija juga sehingga untuk wilayah kabupaten Belu kita targetkan jagung,” ungkapnya.
Disampaikan bahwa lahan jagung yang akan dijadikan sampel sementara dikumpulkan untuk menunggu pelaksanaannya. Akan tetapi bukan sembarang lahan yang akan dijadikan sampel melainkan lahan yang memang digunakan untuk menanam jagung sepanjang tahun. “Sementara kita pantau lahannya dimana supaya dapat dijadikan pantauan selama setahun. Lahan ini memang dipakai selama setahun penuh untuk tanam jagung bukan lahan jagung musiman,” tutur Siga.
Untuk diketahui bahwa program KSA ini dihadirkan karena untuk mengetahui jumlah produksi suatu daerah diperlukan dua data yaitu luas panen dan produktivitas. Terkait dengan luas panen, sebelum tahun 2017 pengukuran luas masih menggunakan metode pengumpulan data secara Eye Estimate yang bersifat Subjective Measurement namun dinilai kurang maksimal sehingga pemerintah pusat melalui BPS membuat suatu metode yang lebih Objective Measurement yaitu Kerangka Sampel Area (KSA) dan diterapkan mulai tahun 2018 lalu. Diakui bahwa metode Kerangka Sampel Area (KSA) memang lebih unggul dari metode sebelumnya terutama keakuratan data dan situasi lapangan yang sebenarnya ada di wilayah tertentu.
Kerangka sampel area (KSA) adalah salah satu pendekatan statistik spasial yang dikembangkan oleh FAO (Food Agricultural Organisation, USDA (United State Department of Agriculture), dan EUROSTAT Uni Eropa, dimana metode ini bukan merupakan pendekatan pemetaan melainkan pendekatan dengan kaidah-kaidah statistik. “Kerangka Sampel Area ini merupakan suatu metode statistik yang diaplikasikan di lapangan. Orbitannya terbaca oleh satelit jadi untuk kemungkinan salah ataupun main curang dilapangkan hampir tidak ada. KSA fotonya langsung yang terupdate dengan kondisi saat di foto apakah itu sedang mempersiapkan lahan, menanam ataupun sedang memanen,” jelas Yustinus.
Dijelaskan oleh Kepala BPS Belu ini bahwa program KSA dilaksanakan secara serentak setiap 7 hari terakhir dalam bulan sehingga datanya yang kemudian bisa dipakai Pemerintah Pusat untuk membuat kesimpulan dan mengeluarkan keputusan tertentu jika diperlukan. “Data KSA tidak begitu penting untuk publik akan tetapi yang penting adalah dari data tersebut dapat memunculkan kebijakan pemerintah secara lebih cepat dan tepat,” katanya. (Ronny)


