Sunday, November 30, 2025

Top 5 This Week

Related Posts

Halau Virus Corona, Bali akan Gelar Upacara di Pura Besakih

DENPASAR, Theeast.co.id – Pemerintah Provinsi Bali akan menggelar upacara besar sesuai tradisi agama Hindu di Bali di Pura Besakih pada tanggal 23 Februari 2020. Upacara tersebut dinamai Karya Pemelepeh lan pemahayu jagat. Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Arta Ardhana (Cok Ace) menjelaskan, rencana ini berawal dari beberapa kejadian termasuk salah satunya virus corona dan virus babi yang belakangan menyerang dunia pariwisata Bali.

“Ada keinginan untuk menyeimbangkan kembali keadaan alam semesta, baik di skala maupun niskala. Dengan meminta berbagai pertimbangan dari Ida Begawan, Ida Pedanda yang menguasai sastra, para Pemangku pengempon Pura Besakih, Bendesa Pura Besakih, PHDI, MUDP dan juga FKUB, maka disepakati akan digelar upacara di pura terbesar di Bali yakni Pura Besakih tanggal 23 Februari 2020,” ujarnya di Denpasar, Senin (17/2).

Wagub Tjok Ace berharap serangan virus tidak akan menguasai Provinsi Bali, karena pulau ini hanya memiliki sumber daya manusia saja, sehingga pariwisata dan kunjungan wisatawan memiliki peran yang sangat besar bagi kehidupan masyarakat Bali. Selain itu, dalam beryadnya harus mengetahui secara matang tingkatan karya yang akan dilaksanakan, baik dari nama karya, tingkat besar kecilnya upakara yang akan dilaksanakan. Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali harus dipadukan dengan Nangun Skala dan Niskala yang nantinya akan dilaksanakan karya Pemelepeh lan Pemahayu Jagat yang akan dilaksanakan pada tanggal 23 Februari mendatang yang bertepatan dengan tilem sasih kewulu di bencingah Pura Penataran Agung Besakih.

Perwakilan PHDI Bali I Gede Sutarya mengatakan agar seluruh pihak terkait melakukan koordinasi terlebih dahulu dalam menentukan nama karya, agar tidak menimbulkan pertanyaan di tengah masyarakat yang nantinya tidak menutup kemungkinan juga dapat memecah belah persaudaraan. Selain itu nama harus di sesuaikan dengan lontar yang ada, tingkatan upakara juga harus sesuai dengan kaedah tingkatan karya yang sebelum-sebelumnya sudah sempat dilaksanakan, agar tidak ada tingkatan upacara yang terlewati dan melangkahi karya yang belum pernah (seharusnya) dilaksanakan.

“Karena apabila selaku manusia kita menentang yadnya atau melakukan yadnya yang secara berlebihan akan mengakibatkan sebuah kehancuran bagi alam semesta dan isinya, baik itu grubug, sakit bahkan sebuah peperangan,” ungkap Gede Sutarya dalam usulan rapatnya.

Melalui rapat koordinasi persiapan ini, upacara Pemelepeh lan pemahayu jagat ini akan menghasilkan perencanaan yang matang, sehingga karya akan berjalan dengan lancar dan dapat memberikan keseimbangan skala dan niskala bagi kehidupan yang berlanjutan ke depannya.(axelle dae).

Popular Articles