Home Tekno Pendidikan Praktik Baik Pemanfaatan Al-Qur’an Berbahasa Isyarat dalam Pembelajaran Pendidikan Inklusif

Praktik Baik Pemanfaatan Al-Qur’an Berbahasa Isyarat dalam Pembelajaran Pendidikan Inklusif

9
FOTO : Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq.

JAKARTA, The East Indonesia — Sejak digelar bulan September 2025, kegiatan Training of Trainer (ToT) Al-Qur’an Isyarat gelombang satu telah melahirkan sejumlah pengajar yang dapat mengajarkan bahasa isyarat Al-Qur’an kepada peserta didik penyandang disabiltas tunarungu. Berbagai praktik baik hasil pelatihan telah banyak didapatkan, mulai dari pengetahuan Al-Qur’an berbahasa isyarat, pemanfaatan Al-Qur’an berbahasa isyarat dalam pembelajaran, hingga pengembangan pembelajaran bahasa isyarat kepada wali murid.

Praktik baik itu salah satunya diungkapkan oleh Bukhori, Guru SLB Negeri 7 Jakarta. Pasca mengikuti ToT Al-Qur`an Isyarat gelombang satu, ia merasa takjub dengan semua pengetahuan yang didapatkan, khususnya tentang Al-Qur’an berbahasa isyarat. Menurutnya, kehadiran Al-Qur’an berbahasa isyarat merupakan terobosan penting dalam penguatan pendidikan inklusif dan pendidikan agama.

“Puji syukur melalui kegiatan ini saya mendapatkan pengalaman berharga. Ternyata ada Al-Qur’an yang memang dikhususkan untuk penyadang disabilitas tunarungu. Murid-murid kami juga sangat antusias karena selama ini mereka belum memahami metode membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan mereka,” ujar Bukhori.

Sebagai pengembangan implementasi pembelajaran, Bukhori menuturkan bahwa SLB Negeri 7 Jakarta secara aktif merangkul para wali murid untuk dapat belajar Al-Qur’an berbahasa isyarat. Ia menyebut, penguatan literasi agama peserta didik penyandang disabilitas akan menjadi sia-sia jika hanya berhenti di ruang kelas tanpa adanya dukungan dari lingkungan rumah.

“Sangat penting bagi orang tua murid untuk paham akan Al-Qur’an Isyarat. Dengan begitu, pembelajaran agama di rumah juga akan berjalan dengan baik. Kami ingin pemahaman ini menyentuh sisi emosional dan spiritual baik bagi murid maupun orang tuanya,” tambahnya.

Selanjutnya, praktik baik lainnya juga diutarakan oleh Wita Panca Dewi Annisa, Guru SLB Negeri 3 Jakarta. Ia menilai bahwa penerapan metode isyarat Al-Qur’an membawa perubahan signifikan dalam pendidikan agama di sekolahnya. Sebagai pendidik yang telah mengabdi selama lima tahun, Wita menjelaskan kehadiran metode isyarat Al-Qur’an juga memberikan kemampuan baru bagi guru untuk mengajarkan kitab suci dengan cara yang lebih tepat dan mudah dipahami oleh para murid.

“Sebelumnya kami hanya menggunakan bahasa isyarat sehari-hari yang diterjemahkan secara mandiri ke bahasa Al-Qur’an. Setelah mengikuti kegiatan ToT Al-Qur’an Isyarat, kini kami memiliki keterampilan baru untuk mengajarkan mereka dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami,” terang Wita.

Wita menambahkan, SLB Negeri 3 Jakarta telah mengintegrasikan metode Al-Qur’an Isyarat ke dalam kegiatan Pembiasaan Pagi di sekolah. Para murid diajak membaca ayat-ayat pendek dan doa harian menggunakan bahasa isyarat. Implementasi tersebut juga dilakukan secara bertahap dimulai dari pengenalan huruf hijaiah untuk tingkat SD, hingga hafalan surat-surat pendek bagi jenjang SMP dan SMA.

Kisah Inspiratif Murid dalam Beribadah

Selain dua praktik baik di atas, dampak nyata hasil ToT Al-Qur’an Isyarat juga dirasakan oleh Nadia Aulia Safira, siswi kelas 9 SLB Negeri 3 Jakarta. Setelah mengikuti program ini, Nadia menunjukkan antusiasme tinggi, terutama selama bulan Ramadan. Secara mandiri, ia mempraktikkan bacaan Al-Qur’an isyarat setelah salat Subuh tanpa perlu instruksi dari orang tua maupun guru.

Lebih dari itu, Nadia juga berperan aktif membantu teman-teman sekelasnya agar dapat bisa membaca Al-Qur’an berbahasa isyarat. “Nadia adalah anak yang mandiri dan peduli. Di kelas, dia sering membantu teman-temannya saat belajar hijaiah atau membaca doa bersama,” tambah Wita.

Berkenaan dengan tiga kisah inspiratif tersebut, Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, mengatakan bahwa kegiatan ToT Al-Qur`an Isyarat merupakan bagian dari pemenuhan tanggung jawab moral dan konstitusi yang sejalan dengan Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas.

“Melalui ToT Al-Qur`an Isyarat ini, saya berharap para lulusan pelatihan akan menjadi Mujahid Literasi yang membawa semangat pencerahan dan lingkungan pendidikan yang ramah bagi seluruh penyandang disabilitas seluruh Indonesia,” tutup Wamen Fajar, di Jakarta, Selasa (3/3).(*)