Gandeng BWC, Kemenparekraf Bersih Sampah dan Edukasi Pilah Sampah di Pantai Kuta Bali

211
Direktur Bali Waste Cycle, Olivia Anastasia Padang. Foto : Christovao

KUTA, The East Indonesia – Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menggandeng Bali Waste Cycle (BWC) melakukan pembersihan sampai di Pantai Kuta Bali, Jumat sore (15/9/2923). Selain memilih sampah, sekitar 500 orang dari berbagai elemen masyarakat itu juga dilatih dan diedukasi bagaimana memilah sampah secara baik dan benar. Ini adalah program rencana aksi nasional yang dilakukan oleh tim koordinasi nasional penanganan sampah laut. Kemenparekraf merupakan salah satu bagian dari tim itu menggelar kegiatan Sunset Clean Up di Pantai Kuta dan Pantai Jerman kemarin sore.

Direktur Tata Kelola Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf, Indra Ni Tua yang hadir pada kesempatan tersebut menyampaikan, sampah plastik kalau lihat data secara nasional dalam satu tahun itu ada sekitar 7 ton merupakan sampah plastik. “Ada siklusnya dan kalau di Pantai Kuta pada November-Februari sampah kiriman terjadi. Pada periode itu akan jadi masalah bagi wisatawan dan kita tangani dengan pengadaan alat berat melalui program ekonomi nasional,” ujarnya. Ia mengatakan, masalah ini perlu perlu partisipasi aktif dari masyakarat dan stakeholder terkait seperti komunitas atau organisasi peduli sampah.

Kemenparekraf minggu lalu baru melakukan penandatangan kerja sama dengan GoTo untuk penanganan sampah plastik. “Dengan target yang besar (penyelesaian penanganan sampah plastik) kalau peran serta aktif semuanya untuk penanganan sampah tidak dilakukan mengakibatkan daya tarik disini (Pantai Kuta) akan turun. Ini bebannya berat tapi kalau dipikul bersama mudah-mudahan akan dapat kita kejar targetnya,” imbuh Deputi Indra Ni Tua.

Baca juga :  Danramil Dan Babinsa Takziah Di Pondok Pesantren

Sementara itu Direktur Bali Waste Cycle, Olivia Anastasia Padang menambahkan, kegiatan Sunset Clean Up Pantai Kuta diinisiasi oleh Kemenparekraf yang berkolaborasi dengan Bali Waste Cycle.

Bali Waste Cycle sebagai kolaborator dan di-co-organize oleh Yayasan Wastehub Alam Lestari dan disupport oleh 10 organisasi pendukung lainnya. Ke-10 organisasi pendukung itu diantaranya Kolaborasi Bumi, Pepelingasih Bali, PCMI Bali, Teens Go Green, Trash Hero Kuta, Yellow Garden Community bersama SMPN 2 Abiansemal dan Sispala SMPN 3 Abiansemal, Tegal Dukuh, Dompet Dhuafa, The Climate Reality Project bersama Pramuka Bali, Senang Eco Services dan Social Project Bali.

Olivia menambahkan, maksud dan tujuan dari kegiatan yang diadakan selama dua hari ini adalah bukan sekedar memungut sampah di pantai tetapi ada tiga hal yang menjadi komitmen bersama.

“Pertama komitmen kita dalam mewujudkan Bali yang bersih dan menjaga pariwisata Bali, kedua, ingin menunjukkan detirminasi bahwa kita menolak polusi sampah di laut dan ketiga, ingin menyampaikan pesan bahwa kita bertanggungjawab, peduli dan kita punya harapan dengan kegiatan ini menjadi baik,” ujarnya.

Selain itu pihaknya juga mengedukasi pedagang-pedagang disini untuk pemilahan sampah.

“Disini kita mengedukasi pedagang sekitar untuk dapat memahami pentingnya pemilahan sampah dari sumber. Dan sampah-sampah yang terkumpul dari kegiatan Sunset Clean Up akan dipilah menjadi tiga yakni organik, non organik dan residu,” imbuh Olivia.

Baca juga :  Korem 044/Gapo Gelar Peringatan Isra'Mi'raj Tahun 1440 H

Total peserta teregistrasi dalam kegiatan sementara berjumlah 584 orang dari Bali Waste Cycle dan organisasi pendukung yang disebutkan diatas. Untui Bali Waste Cycle terdapat aspek waste edukasi, waste recycle dan waste recovery.

Waste edukasi yakni mengedukasi pentingnya pemilahan sampah kepada masyarakat, lalu sampah yang bernilai tinggi dilakukan daur ulang atau waste recycle dan residunya diolah kembali agar tidak ada yang terbuang ke TPA kita olah menjadi RDF.

“Jadi residu itu akan kita jadikan RDF sehingga tidak ada lagi sampah dari hasil kegiatan-kegiatan kita yang terbuang ke TPA,” ucap Olivia.

Ia menjelaskan, ketika mengikuti innovation ecosystem melalui inisiatif catalyst changemakers ecosystem, dirinya dibekali aktivitas dan juga pengetahuan yang pada akhirnya memberikan inisiatif baru untuk menghadirkan sebuah proyek sendiri bernama Sukla Project.

Sukla Project pernah mendapat kesempatan untuk memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada 2ribu masyarakat Besakih sebagai salah satu destinasi wisata di Bali.

Mulai dari cara memilah-milih sampah sesuai kategori high value dan low value. Sampah yang bernilai high value dapat ditemui apabila botol plastik masih dalam keadaan utuh atau bentuk sempurna yang bisa diolah menjadi produk yang berkelanjutan.

Sementara yang low value biasanya sampah plastik shampoo saset ataupun kantong kresek yang diolah menjadi sumber energi atau RDF (Refuse Derived Fuel) sehingga mampu mengurangi penggunaan batu bara.

“Edukasi ini kami berikan tidak hanya kepada masyarakat tapi juga kepada wisatawan, para pengunjung, dan para peziarah disana,” demikian kata Olivia.

Baca juga :  Naik 1,3 Poin, Indeks Kepuasan Pemangku Kepentingan Kemendikbudristek Tahun 2022 Meningkat Menjadi 85,9

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno mengapresiasi GoTo Impact Foundation yang berupaya membangun sebuah innovation ecosystem, melalui inisiatif catalyst changemakers ecosystem untuk menyatukan para katalisator menyelesaikan persoalan sampah di Indonesia.

“Saya sangat mengapresiasi peran GoTo Impact Foundation. Karena hal ini sejalan dengan program Kemenparekraf dalam mengakselerasi dampak yang berkelanjutan bagi penyelesaian sampah di destinasi wisata Indonesia,” kata Menparekraf Sandiaga dalam The Weekly Brief with Sandi Uno, yang dilangsungkan secara hybrid, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (11/9/2023) lalu.

Kawasan strategis pariwisata nasional yaitu Bali, Labuan Bajo, dan Danau Toba menjadi pilot project atas inisiatif catalyst changemakers ecosystem.

Persoalan sampah memang menjadi persoalan yang belum dapat diselesaikan secara tuntas.

Data yang ada menyebutkan bahwa jumlah timbulan sampah nasional tahun 2021 tercatat sebesar 68,5 juta ton.

Dari jumlah tersebut sebanyak 17 persen atau sekitar 11,6 juta ton merupakan sampah plastik.Timbulan sampah ini apabila tidak ditangani dengan baik, maka akan berdampak pada aspek lingkungan maupun kesehatan masyarakat.

“Maka dari itu, sudah seyogyanya kita harus bekerja sama untuk dapat mencapai target nasional pengurangan sampah sebesar 30 persen dan pengelolaan serta penanganan sampah sebesar 70 persen pada tahun 2025,” ujar Sandiaga.*Arnold

Facebook Comments

About Post Author