Pecah! Penampilan Memukau Gong Kebyar Anak-anak Buleleng Bawakan Garapan “Meslodoran

32

SINGARAJA, The East Indonesia – Duta Kabupaten Buleleng, yang diwakili oleh Sanggar Seni Bayu Teja Budaya dari Banjar Pamesan, Desa Lokapaksa, Kecamatan Seririt, tampil memukau di ajang Parade Gong Kebyar Anak-anak Pesta Kesenian Bali 2024. Dalam penampilan kali ini, mereka membawakan garapan kearifan lokal Buleleng melalui permainan tradisional Meslodoran, yang berhasil menarik perhatian dan apresiasi dari para penonton di Panggung Ardha Candra, Selasa, (25/6).

Dalam acara tersebut, Sanggar Seni Bayu Teja Budaya juga menampilkan beberapa garapan seni yang memukau, antara lain Tabuh Prananing Lumat, dan Tari Pancasila.

Pembina Sanggar Seni Bayu Teja Budaya, I Putu Eka Juliana Putra, menjelaskan bahwa permainan tradisional Meslodoran terus menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak di Desa Lokapaksa. Meskipun zaman telah banyak berubah, anak-anak di desa ini tetap melestarikan permainan yang sarat akan kebersamaan dan strategi tersebut.

Baca juga :  Bali Gunakan Kearifan Lokal Dalam Mitigasi Bencana

Permainan Meslodoran dimainkan oleh dua grup, masing-masing terdiri dari empat orang. Grup pertama bertugas sebagai penjaga Meslodoran, sementara grup lainnya adalah pemain yang berusaha menerobos penjagaan. Untuk memulai permainan, dibuat tiga garis melintang sejajar dan satu garis membujur yang membagi tiga garis melintang tersebut di tengah.

“Meslodoran adalah bagian dari warisan budaya kami yang penting untuk dilestarikan,” ujar I Putu Eka Juliana Putra.

Lebih lanjut, para penjaga Meslodoran masing-masing menempati posisi di atas tiga garis melintang yaitu satu di garis depan, satu di garis tengah, satu di garis belakang, dan satu lagi di garis membujur. Tugas mereka adalah menjaga agar wilayah slodoran tidak dimasuki oleh grup lawan. Grup lawan harus melewati tiga garis melintang sejajar dan kembali ke posisi awal tanpa tersentuh oleh penjaga. Jika penjaga berhasil menyentuh salah satu pemain lawan, maka pemain tersebut dinyatakan gagal. Namun, jika grup lawan berhasil menerobos penjagaan dan kembali ke posisi awal tanpa tersentuh, mereka dinyatakan sebagai pemenang.

Baca juga :  Kemendikbud Gelar Bincang Aku, Kamu, Dia dan Pancasila

Permainan Meslodoran tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga mengajarkan anak-anak mengenai kerja sama tim, strategi, dan keterampilan motorik.

Dengan menampilkan permainan Meslodoran ini diharapkan bisa menjadi lambang kekayaan budaya yang hidup dan dinamis, serta dapat menginspirasi lebih banyak generasi muda untuk mencintai dan melestarikan warisan budaya mereka.

“Melalui permainan ini, anak-anak tidak hanya bermain dan bersenang-senang, tetapi juga belajar tentang pentingnya kebersamaan dan kerja keras.”tutupnya.*Wismaya

Facebook Comments

About Post Author