ATAMBUA, The East Indonesia – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Atambua terus membuktikan komitmennya dalam menjalankan program pembinaan kemandirian yang berkelanjutan bagi warga binaan.
Tidak ingin membiarkan lahan menganggur pasca-keberhasilan panen raya padi, pihak Lapas bergerak cepat memanfaatkan kembali area seluas 1 hektar untuk program budidaya baru pada Selasa, 14 Juli 2026.
Pada siklus tanam kali ini, Lapas Atambua memilih fokus pada sektor hortikultura dengan menanam tiga komoditas unggulan sekaligus, yaitu bawang merah, bibit kol, dan semangka.
Langkah strategis ini diambil sebagai bentuk kesinambungan program agar para warga binaan terus mendapatkan wadah pelatihan kerja yang produktif dan bernilai ekonomis.
Kepala Lapas Atambua, Antonio Luis Pui Ximenes Da Costa menyatakan bahwa program ini merupakan langkah nyata dalam mendukung program ketahanan pangan nasional, sekaligus menjadi wadah asimilasi dan edukasi bagi para warga binaan.
“Kami ingin memastikan bahwa waktu yang mereka jalani di dalam Lapas diisi dengan kegiatan yang bernilai guna. Lewat program pertanian di lahan satu hektar ini, kami tidak hanya mengoptimalkan lahan yang ada, tetapi juga membentuk karakter warga binaan agar lebih mandiri dan siap kerja,” ujar Kalapas Atambua.
Untuk mengelola lahan yang cukup luas tersebut, pihak Lapas melibatkan 10 orang warga binaan yang telah melalui proses asesmen sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP). Mereka didampingi secara intensif oleh jajaran staf kegiatan kerja.
Kepala Subseksi Kegiatan Kerja (Kasubsi giatja), Andra Sukabir Lapas Atambua menjelaskan secara teknis mengenai pemilihan komoditas dan jalannya proses pengolahan lahan yang saat ini tengah berlangsung.
“Sepuluh warga binaan ini kami bimbing mulai dari tahap penggemburan tanah, pembuatan bedengan, hingga sistem pengairan. Kami memilih bawang merah, kol, dan semangka karena selain memiliki nilai ekonomis yang tinggi di pasaran, karakteristik tanamannya juga sangat cocok dengan kondisi tanah dan iklim di wilayah Atambua,” jelas Andra.
Program pembinaan ini disambut hangat oleh para warga binaan yang terlibat. Salah satu warga binaan yang ikut dalam program ini, berinisial Jein Manek, mengaku sangat bersyukur mendapatkan kesempatan belajar bercocok tanam secara modern.
“Di sini kami diajarkan dari nol, mulai dari merawat bibit hingga mengatasi hama. Ini menjadi modal yang sangat berharga bagi saya untuk membuka usaha tani sendiri dan memulai hidup baru setelah bebas nanti,” ungkap Jein. (Ronny)


