Monday, September 7, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

‘Situ Banda’ Jembatan Penghubung Desa Jinangdalem – Penglatan Diresmikan, Jadi Harapan Baru Petani

SINGARAJA, The East Indonesia – Warga Desa Jinangdalem, Kecamatan Buleleng akhirnya memiliki jembatan penghubung ke Desa Penglatan. Pembangunan jembatan sepanjang 6 meter dengan lebar 4 meter ini murni hasil swadaya masyarakat yang dimulai sejak 2018.

Jembatan yang diberi nama Situ Banda itu diresmikan melalui kegiatan sederhana yang dihadiri oleh Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Bali Made Muliawan Arya alias De Gadjah dan Ketua HKTI Buleleng dr. Ketut Putra Sedana atau dr. Caput. Selain itu, hadir juga Ketua DPC Partai Gerinda Buleleng Gede Harja Astawa dan para anggota DPRD Buleleng dari partai Gerindra.

De Gadjah mengatakan, ini merupakan kunjungan keduanya ke lokasi. Pada kunjungan pertama, ia sempat menerima aspirasi warga terkait akses jalan.

“Saya anggap ini murni swadaya masyarakat. Memang ada sedikit dana hibah bansos, tapi itu kan hak warga dari pajak. Yang saya harukan adalah kegigihan warga berjuang hingga jembatan ini bisa terwujud, walau belum 100 persen,” ujar De Gadjah, Minggu (6/9).

Ia menegaskan ke depan HKTI Bali akan berkoordinasi dengan Pemkab Buleleng, Pemprov Bali, hingga pemerintah pusat untuk menyempurnakan jembatan.

“Kami tidak berebut nama. Kami ingin bersinergi agar jembatan ini benar-benar bisa dimanfaatkan masyarakat luas,” tegasnya.

Perbekel Jinangdalem Ketut Mas Budarma menjelaskan, pembangunan dimulai 2018 dengan pembebasan lahan. Tujuannya membuka akses warga yang memiliki lahan di Desa Penglatan.

“Prosesnya panjang. Ada dana bansos, sumbangan pihak ketiga, dan yang paling besar adalah swadaya warga berupa iuran dan tenaga,” jelas Budarma.

Desa juga menggelontorkan dana APBDes sebesar Rp55 juta. Total biaya pembangunan ditaksir mencapai Rp250 juta.

“Volume jembatan panjang 6 meter, lebar 4 meter. Lebih banyak dananya dari swadaya murni. Karena itu kami mohon dukungan semua pihak untuk bersama-sama menyempurnakan jembatan ini agar fungsinya maksimal,” harapnya.

Ketua HKTI Buleleng dr. Putra Sedana atau dr. Caput menambahkan, kehadiran jembatan sangat membantu petani. Selama ini warga kesulitan membawa hasil panen antar desa.

“Ini yang selama ini kita perjuangkan di HKTI. Dengan adanya jembatan, petani tidak lagi kesulitan distribusi hasil pertanian,” katanya.

Ia juga mengaku menerima banyak usulan  dari desa lain. Bulan ini pihaknya akan turun ke Kecamatan Sawan, Desa Sudaji untuk bertemu kelompok Subak dan menjaring aspirasi petani.

“Kami akan kaji dan kumpulkan semua aspriasi para petani. Fungsi HKTI adalah sebagai fasilitator untuk memenuhi kebutuhan para petani – petani kita,”tandasnya.(Wis)

Popular Articles