ATAMBUA, The East Indonesia – Upacara Detik-detik Proklamasi Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia khidmat digelar di Lapangan Bung Karno PLBN Motaain, perbatasan RI-RDTL, Senin, 17 Agustus 2026).
Bertindak sebagai Inspektur Upacara, Tenaga Ahli Pengajar Lemhannas RI Irjen Pol. Dr. Chaidir, S.H., S.I.K., M.Si., M.P.P., M.Han yang membacakan amanat Mendagri selaku Kepala BNPP dengan tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.
Hadir dalam Upacara Detik-Detik Proklamasi ke-81 RI di PLBN Motaain: Wakil Bupati Belu, Vicente Hornai Goncalves dan Ibu; Asisten Pemerintahan Dan Kesejahteraan Rakyat Setda Belu; Kepala Badan Pengelolaan Perbatasan Kabupaten Belu, Kons Ando; Kepala Administrator PLBN Motaain, Maria Fatima Rika; Mewakli Dansatgas Pamtas RI – RDTL Sektor Timur Yonarmed 12/AY/2/2 Kostrad oleh Kapten Arm Sugiyo; Dansub Satgas IV Citarum Bais TNI; Mewakili Wadanyon Brimob Pelopor A Atambua oleh Danki; Danramil Tasifeto Timur Kapten Inf Marselus Tobu; Kapolsek Tasifeto Timur Ipda Yusran; Dankipur I Satgas Pamtas RI-RDTL sektor Timur Yonarmed 12 AY Kostrad; Dantim Intel Kodam IX Udayana; Danpos PM TNI PLBN Motaain; Danpos Angkatan Laut Atapupu Lettu Laut; Kepala Pos Polisi Motaain/LO (Liaison Officer) POLRI; Pejabat Penghubung; Danki Gas Brimob RI-RDTL; Kepala Terminal Barang Internasional Motaain; Kepala Agen Konsulat Timor Leste di Atambua; Kepala Imigrasi Kelas II TPI Atambua; Kepala KPBC Tipe Madya Pabean B Atambua; Kepala BNNK Belu; Kepala Desa Silawan; Kepala Desa Tulakadi; Para Kepala Sekolah (SD, SMP, SMK); Kepala UPTD Puskesmas Silawan Korpri; Tokoh Agama; Tokoh Adat; Tokoh Masyarakat; Organisasi Beladiri; dan Organisasi Wanita.
Hadir juga Undangan Dari Negara Republik Demokratik Timor-Leste diantaranya Komandante Unidade Patroillamentu Fronteira (UPF), Superintendente Xefe Polisia Calisto Gonzaga; Kepala Alfandega Batugade Customs Municipal Director Nuno Nugueira; Wakil Komandan UPF Timor Leste Antonio Da Cruz; Komandan Taktical UPF Timor Leste Evaristo Lopez; Komandan Kompi A UPF Timor Leste Paul Asis Belo; Dan Pos UPF PLBN Batugade Martin’s Ximenes; Joakim Taek Leu selaku Manajemen Pos Batugade; yang ang Mewakili Agen Konsulat Republik Demokratik Timor Leste di Atambua; Kepala Pos Imigrasi Batugade Claudio De Araujo; Kepala Pos Karantina Tumbuhan/lkan Batugade Jose Manuel Dacosta; Ass Imigrasi Pada Agen Konsulat Timor-Leste di Atambua Bendita De Araujo; Komandan Pos DNTT PLBN Batugade Timor-Leste Julio Dos Santos; Koordinator SNIE Batugade Timor Leste Josefina Marques; Koordinator Trancito PLBN Batugade Timor Leste A. R. Dos Santos.
Upacara peringatan kemerdekaan di batas negara ini berlangsung tertib dengan susunan acara resmi kemiliteran dan kenegaraan.
Komandan upacara memasuki lapangan, disusul kedatangan Inspektur Upacara Irjen Pol. Dr. Chaidir, S.H., S.I.K., M.Si., M.P.P., M.Han.
Penghormatan pasukan dan laporan komandan upacara dilanjutkan Peringatan Detik-detik Proklamasi.
Pembacaan Naskah Proklamasi oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra Setda Kabupaten Belu, Nikolaus Umbu Kundji Birri, S.H.
Mengheningkan cipta, pembacaan doa, dan Pengibaran Bendera Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya.
Pembacaan teks Pancasila oleh Irup, Pembacaan Pembukaan UUD 1945, serta amanat pembacaan pidato Kepala Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP).
Membuka amanat, Irjen Pol. Dr. Chaidir, S.H., S.I.K., M.Si., M.P.P., M.Han, Irup menyampaikan rasa duka mendalam atas musibah gempa bumi yang melanda saudara-saudara di Flores, NTT, pada 15 Agustus 2026, serta mendoakan agar para korban segera mendapat pertolongan.
“Di garis depan perbatasan Negara Republik Indonesia hari ini tanggal 17 Agustus 2026 kita melaksanakan Upacara Peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-81,” buka Irjen Pol. Chaidir dalam sambutannya di hadapan para peserta upacara.
“Namun pada tanggal 15 Agustus 2026 kemarin kita mendengar peristiwa yang menyayat hati karena saudara-saudara kita yang di Flores NTT mengalami bencana gempa bumi. Kita senantiasa mendoakan para korban sehingga bisa segera mendapatkan pertolongan,” sambungnya dengan nada penuh empati.
Dalam momentum sakral di garis terdepan negara ini, Irjen Pol. Chaidir pun melanjutkan sambutan dengan membacakan amanat tertulis dari Menteri Dalam Negeri selaku Kepala Badan Nasional Pengelolaan Perbatasan (BNPP) Republik Indonesia.
Meneruskan amanat dari Kepala BNPP bersama Presiden Prabowo Subianto, Irjen Pol. Chaidir menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat yang hadir serentak di 15 PLBN di seluruh Indonesia.
Ia menegaskan bahwa memperingati kemerdekaan di kawasan perbatasan memiliki esensi yang sangat khusus.
“Di perbatasan, makna kedaulatan menjadi nyata. Di sinilah Merah Putih berkibar di garis terdepan negara. Di sinilah masyarakat Indonesia hidup, bekerja, membesarkan keluarga, dan menjadi bagian penting dari keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa kemerdekaan bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, melainkan merdeka dari ketertinggalan, ketidakadilan, keterisolasian, dan kemiskinan.
“Kedaulatan bukan hanya kemampuan menjaga wilayah. Kedaulatan juga berarti negara mampu memberikan pelayanan, menyediakan infrastruktur, membangun ekonomi, melindungi masyarakat, dan memberikan kesempatan kepada setiap warga negara untuk berkembang,” kata Irjen Pol. Chaidir saat membacakan amanat.
Disampaikan bahwa Pemerintah saat ini tengah memperkuat arah baru pengelolaan kawasan perbatasan untuk 20 tahun ke depan melalui Grand Design Transformasi Pengelolaan Batas Wilayah Negara dan Kawasan Perbatasan Tahun 2026–2045.
Fokus utamanya adalah mendorong PLBN agar tidak sekadar menjadi tempat pemeriksaan administratif.
“Dalam transformasi tersebut, PLBN harus naik kelas. PLBN tidak boleh berhenti sebagai tempat pemeriksaan keluar-masuk orang dan barang. PLBN harus menjadi gerbang negara Indonesia: Gerbang yang menjaga kedaulatan, yang memberikan pelayanan, yang memperkuat perdagangan dan logistik, dan gerbang yang mendorong UMKM,” paparnya.
Irjen Pol. Chaidir mengibaratkan pembangunan ini dengan perumpamaan fisik yang bermakna mendalam.
“Karena itu, kita jangan hanya membangun pintunya, tetapi juga harus membangun rumahnya. PLBN harus tumbuh bersama kawasan di sekitarnya.”
Diterangkan bahwa memasuki tahun pelaksanaan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, terdapat tiga catatan strategis yang ditekankan guna mempercepat pencapaian Astacita menuju Indonesia Emas Tahun 2045:
Hilirisasi Ekonomi Perbatasan: Mendukung penuh para pelaku usaha dan Koperasi Merah Putih untuk meningkatkan nilai tambah potensi lokal (pertanian, peternakan, perikanan, kerajinan) serta menjadikan PLBN sebagai pintu ekspor nasional untuk membanjiri negara tetangga dengan komoditas dalam negeri.
Digitalisasi Manajemen Mutu: Meningkatkan standar pelayanan bagi pelintas batas (WNI dan WNA) melalui digitalisasi agar tercipta lalu lintas orang dan barang yang efektif, efisien, serta terintegrasi.
Persatuan dan Kesatuan: Mengimbau seluruh masyarakat perbatasan untuk tetap menjaga kerukunan dan tampil sebagai simbol nasionalis sekaligus penjaga kedaulatan di halaman terdepan.
Kolaborasi sebagai Satu Orkes Pembangunan
Di akhir amanatnya, Irjen Pol. Chaidir menegaskan bahwa membangun wilayah perbatasan adalah urusan bersama yang memerlukan kolaborasi lintas sektor antara kementerian, lembaga, pemerintah daerah, TNI, Polri, dunia usaha, perguruan tinggi, hingga masyarakat.
“Kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri: Infrastruktur harus mendukung ekonomi, ekonomi harus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, pelayanan harus memperkuat kehadiran negara, dan seluruhnya harus memperkuat kedaulatan Indonesia,” ujarnya memungkasi pidato.
Sambutan pun ditutup dengan pekikan kemerdekaan yang membakar semangat nasionalisme para peserta di PLBN Motaain.
“Mari kita jadikan perbatasan bukan sebagai halaman belakang, tetapi beranda depan Indonesia! Dirgahayu Republik Indonesia! Dirgahayu Indonesia ke-81! Merdeka! Merdeka! Merdeka!” seru Irjen Pol. Chaidir disambut riuh khidmat seluruh peserta yang hadir.
Upacara pun dilanjutkan dan ditutup dengan penyerahan laporan komandan upacara, serta penghormatan akhir sebelum Inspektur Upacara meninggalkan lapangan upacara. (Ronny)


