Dandim Ari Nugroho Yakin Kasus Dugaan Penganiayaan Orlando Dituntaskan Penyidik TNI

125

Atambua, Theeast.co.id – Dandim 1605/Belu, Letkol Inf Ari Dwi Nugroho menyakinkan masyarakat bahwa kasus dugaan penganiayaan oleh tiga oknum Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 408/Suhbrastha yang dilakukan terhadap salah seorang warga pengidap gangguan jiwa di RT/RW 002/002, Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Kamis pagi (11/04/2019) akan dituntaskan oleh Penyidik TNI.

Hal ini disampaikan Dandim 1605/Belu Letkol Inf Ari Dwi Nugroho saat dikonfirmasi awak media ini, Senin (15/04/2019). “Saya pastikan kepada masyarakat bahwa kasus dugaan penganiayaan yang terjadi di batas Turiskain akan dituntaskan oleh Penyidik TNI.”

Soal lamanya waktu penyidikan, Dandim 1605/Belu hanya bisa mengatakan akan diselesaikan secepatnya. Sementara proses penyidikan sudah dilakukan oleh penyidik Tentara Nasional Indonesia.

Sebelumnya dalam pertemuan terbuka antara pihak Kodim 1605/Belu, Camat Raihat Raimundus Bele Bau bersama aparat pemerintah Raihat, Dansatgas Pamtas Sektor Timur bersama Pihak Satgas Yonif Raider 408/SBH dan keluarga korban beserta masyarakat sekitar Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Provinsi NTT, wilayah Perbatasan Negara RI-RDTL, Jumat (12/04/2019), Dandim Ari menegaskan bahwa apabila ada oknum TNI yang akan menutupi-nutupi kesalahannya untuk mencari nama baik, itu adalah perilaku yang sangat-sangat tidak terpuji.

Hal ini diungkapkan Dandim Ari karena untuk kejadian tersebut juga Dansatgas Joni sudah melakukan pemeriksaan terhadap anggota-nya. Kemudian Dandim sendiri juga tadi sudah melakukan interogasi dengan saksi-saksi dan telah mengikuti perkembangan yang terjadi baik dari kebun kacang depan Pos Turiskain maupun di Depan Kantor Bea Cukai dan Imigrasi Atambua.

Dandim Nugroho juga menegaskan bahwa keberadaan Yonif Raider 408/Suhbrastha saat ini berada di kabupaten Belu untuk melaksanakan Satgas. Sehingga kedepan Yonif 408/Suhbrastha juga harus melaksanakan koordinasi yang baik dengan sesama Aparat TNI, Instansi Polres Belu dan masyarakat untuk adanya bentuk sinergi yang baik. “Aturan TNI yang sedang melaksanakan Satgas itu, harus lebih besar,” pungkasnya.

Hal ini dikarenakan, saat ini kita menjalani tugas di Wilayah Perbatasan Negara Republik Indonesia. Hal apapun yang dilakukan, langsung termonitor ke permukaan sehingga bila muncul hal negatif bisa menimbulkan hilangnya kebaikan yang kita lakukan.

Evaluasi-evaluasi termasuk dari masyarakat itu sangatalah diperlukan oleh Tentara Nasional Indonesia karena dari jumlah anggota TNI yang begitu banyak tentunya ada oknum-oknum yang kurang bagus. “Kalau kita tidak mau dikoreksi jangan jadi TNI. Jangan jadi aparat,” imbuh Dandim Ari.

Baca juga :  Polda Bali Komitmen Percepat Penerapan ETLE

Dirinya juga berharap agar kedepannya semua TNI dalam menjalankan tugas di daerah Perbatasan Negara RI-RDTL ini semakin bagus sebab TNI itu bekerja untuk masyarakat serta untuk Negara san bukan untuk diri pribadi. “Kedepannya saya mohon kepada aparat dan masyarakat untuk kita saling bahu membahu demi terjaganya keamanan dan Kesatuan Bangsa Indonesia,” kata Dandim 1605/Belu.

Untuk diketahui, sebelumnya dalam pemberitaan media ini, Tiga oknum Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 408/Suhbrastha diduga melakukan penganiayaan terhadap salah seorang warga pengidap gangguan jiwa di RT/RW 002/002, Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Kamis pagi (11/04/2019).

Hal ini diungkapkan Getrudis Bin Loe (49) selaku Istri Orlando Mau Soco (50) saat dikonfirmasi oleh awak media ini. “Suami saya memang ada gangguan jiwa. Kemarin saya dapat laporan dari keluarga saya kalau suami saya dianiaya oleh tentara Satgas.”

Informasi tersebut didapatkan Getrudis dari anak-anak disekitar wilayah Turiskain dan keluarganya yang tinggal langsung dekat Tempat Kejadian Perkara (Depan Kantor Imigrasi dan Bea Cukai Atambua di Turiskain). Menceritakan bahwa Orlando dianiaya oleh 3 oknum Satgas dengan nama Anggi, Anjar dan Septiam tepat di depan Kantor Imigrasi dan Bea Cukai Atambua di Batas Turiskain.

Sekitar pukul 04:00 pagi waktu setempat, Orlando diduga dianiaya dari depan Pos Satgas Turiskain karena mencuri barang Satgas dan sempat melarikan diri sampai Kantor Imigrasi dan Bea Cukai Atambua di Turiskain.

Berdasarkan informasi yang didapat, saat itu di TKP, para pemuda di Turiskain sedang menonton siaran langsung sepak bola. Orlando pun muncul dengan kondisi ketakutan, tidak berbaju dan hanya menggunakan celana pendek berjarak beberapa meter dari keramaian masyarakat yang menonton siaran bola. Dirinya pun sempat diusir oleh Saksi Marten Lelo dan Reis Loe. Namun jelang beberapa saat, muncullah tiga oknum TNI Satgas tanpa banyak bicara langsung menghajar Orlando di depan saksi Marten dan Reis menggunakan sebuah besi berwarna putih dan korban pun terpental ke tanah. Tidak sampai disitu tiga oknum Satgas yang menggunakan pakaian preman ini secara bergantian memukul dan menyeret Orlando di tanah lalu menggiring keluar dari area depan kantor Bea Cukai dan Imigrasi Atambua di Turiskain.

Baca juga :  Dihipnotis, Korban Serahkan Uang Jutaan Rupiah

“Anjing jangan sengaja mati,” demikian ucap salah seorang oknum TNI Satgas Yonif Raider 408/SBH ditirukan salah satu saksi, saat Orlando terpental di tanah akibat pukulan yang dilakukan.

Ternyata kejadian tersebut yang serupa terhadap pensiunan TNI ini, diduga sudah dilakukan sebanyak 2 kali oleh anggota pos Turiskain dengan tuduhan korban mencuri barang dari Pos Turiskain. Kejadian pertama terjadi karena korban diduga mencuri ayam lalu muncul kejadian berikutnya korban Orlando mengambil baju kaos loreng namun saat dikembalikan korban diduga kembali dipukul oleh 2 anggota TNI Pos Turiskain.

Akibat dari dugaan penganiayaan ini, Orlando mengalami luka pada bagian kepala, wajah, badan, tangan, perut dan kaki.

Mendengar kejadian tersebut menimpa suaminya yang sudah lama mengalami gangguan jiwa ini dari anak-anak sekitar maupun keluarganya, sekitar pukul 12 siang Getrudis langsung bergegas pergi ke Pos Satgas Turiskain untuk mengungkapkan ketidakpuasannya atas kejadian yang menimpa suaminya tersebut. “Kejadian pertama dan kedua saya diamkan saja karena dia sudah salah. Tapi yang ketiga ini sudah tidak manusiawi lagi,” pungkas Getrudis.

Sesampainya disana, Getrudis malah disuruh tunggu karena pihak Satgas lagi lakukan acara di Pos Satgas Turiskain dan sedang minum bersama petugas dari Negara tetangga Timor Leste. Beberapa saat menunggu, akhirnya Getrudis bisa bertemu Danpos Turiskain. Dirinya pun mengadukan kejadian tersebut namun Bin Loe balik dimarahi oleh beberapa oknum Satgas Yonif 408/Suhbrastha. “Kenapa Orlando dipukul model begini pak. Dia juga mantan pasukan sama dengan Pak. Kalau disiksa ya seperti manusia lah,” tegasnya.

Sempat saling beradu mulut dengan beberapa anggota Satgas Turiskain, Getrudis pun memutuskan kembali ke rumah dan mendiamkan diri serta menerima kejadian tersebut yang menimpa suaminya.

Akan tetapi sekitar pukul 18:00 lewat waktu setempat ketika suaminya Orlando yang meskipun pengidap gangguan jiwa datang dengan kondisi yang babak belur dengan jalan terpincang-pincang, dirinya bersama kedua anak nonanya pun langsung tidak terima kejadian yang menimpa Mau Soco. Anak-anak mereka pun saling memberitahu dan mengirim foto kondisi bapak Orlando ke kakak pertamanya di Kota Kefamenanu karena tidak menerima kejadian yang menimpa bapak mereka. Berita ini pun tersebar dengan cepat di masyarakat.

Baca juga :  Polda Bali Ungkap Kasus Penculikan WNA Bulgaria Bermotif Balas Dendam

Untuk diketahui bahwa Orlando Mau Soco (50) merupakan pensiunan Tentara Nasional Indonesia yang diberhentikan karena mengalami gangguan jiwa. Dirinya mengalami gangguan jiwa sejak tahun 1999 dan sempat dilakukan pengobatan oleh pihak Kodim 1605/Belu ke Pusat Rehabilitasi. Saat itu Orlando sempat sembuh namun beberapa bulan kemudian dirinya kembali alami gangguan jiwa hingga saat ini. Akhirnya pada tahun 2015, Orlando Mau Soco pun di Pensiun dini-kan. Dirinya saat ini memiliki seorang istri dan 3 orang anak yang setia merawatnya di RT/RW 002/002, Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu, Perbatasan Negara RI-RDTL.

Orlando Mau Soco sering melakukan kegiatan pencurian termasuk di Pos Satgas Turiskain dari era Satuan Tugas sebelumnya. Namun biasanya baik masyarakat maupun pihak aparat yang ada di perbatasan Turiskain apabila mengalami kehilangan dan mencurigai Orlando yang melakukan pencurian maka segera mendatangi ke rumahnya yang berada di RT/RW 002/002 Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu. Kalau benar barang tersebut dicuri Orlando maka Istri atau anak-anaknya pasti langsung mengamankan untuk mengembalikan barang yang hilang tersebut kepada pemiliknya.

Untuk diketahui juga bahwa kejadian serupa yaitu penganiayaan terhadap masyarakat di perbatasan Turiskain ini sudah terjadi yang kedua kalinya. Kejadian pertama terjadi tepat 3 bulan yang lalu, dimana Diduga empat warga batas Turiskain yang berasal dari Desa Maumutin, Kecamatan Raihat, Kabupaten Belu mendapatkan penganiayaan oleh sejumlah oknum Satgas Pamtas RI-RDTL Sektor Timur Yonif Raider 408/Suhbrastha yang bertugas di perbatasan Turiskain kecamatan Raihat pada Jumat pagi (11/01/2019).

Empat orang warga korban kekerasan fisik oleh sejumlah oknum TNI tersebut adalah Desa Maumutin. Mereka dianiaya setelah tertangkap aparat TNI Yonif 408/SBH karena sedang berupaya menyelundupkan sejumlah dos berisi rokok ke wilayah Timor Leste Jumat pagi lalu (11/01/2019). Salah satu korban atas nama Luis Soares terpaksa harus menjalani perawatan medis secara intensif di Puskesmas Haekesak, kecamatan Raihat, kabupaten Belu. Sedangkan tiga orang yang menjadi korban dugaan penganiayaan hanya menjalani rawat jalan. (Ronny)

Facebook Comments

About Post Author