Ini Item Dugaan Penyelewengan Dana Desa Leuntolu di Belu TA 2016-2019

26
FOTO : Kantor Desa Leuntolu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu.(Tim)

ATAMBUA, The East Indonesia – Beberapa masyarakat sejak akhir November 2019 telah mengadukan dugaan penyalahgunaan dana desa di Desa Leuntolu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu wilayah perbatasan Negara RI-RDTL kepada pihak Kejaksaan Agung di Jakarta, Kejati NTT, Bupati Belu, Dinas PMD, inspektorat Belu, Tipikor Belu hingga pihak DPRD Belu.

Salah satu masyarakat yang turut mengadukan dugaan penyelewengan Dana Desa Leuntolu, Ande Seran saat dikonfirmasi awak media ini, Senin (19/07/2021) menjelaskan bahwa bersama dengan beberapa masyarakat di Desa Leuntolu mengadukan beberapa item pengelolaan Dana Desa yang diduga diselewengkan dari tahun anggaran 2017, 2018 dan 2019. Berikut rinciannya;

Pertama, pengadaan traktor Tahun 2016 sebanyak 7 (tujuh) Unit dimana mesinnya CINA dan rangkanya KUBOTA . Masyarakat yang menerima Traktor tersebut adalah:
– Markus Mau di Dusun Webutak
– Jhon Parera di Dusun Webutak
– Domi Lorok di Dusun Kuanitas
– Vinsen Aluman ( Almarhum ) di Dusun Subaru
– Linus Banase di Dusun Subaru
– Bene Bau di Dusun Amahatan
– Anton Taek di Dusun Bibin

Baca juga :  Sempat Kabur, Ayah Dari Bayi Kembar yang Dibuang di Denpasar Akhirnya Ditangkap Polisi

“Dari ketujuh buah Traktor ini sudah berkarat dan tidak dapat digunakan. Sementara saat Tim Jaksa turun periksa lapangan pada tanggal 24 Juni 2021, Kepala Desa mendatangkan 7 Unit Traktor Baru merek Kubota yang diadakan dari Dana Desa Tahun 2017, yang mana pemilik Traktor tersebut adalah orang lain salah satunya Ketua BPD Desa Leuntolu atas nama Guido Toto di Dusun Amahatan. Dari Pengakuan Ketua BPD Guido Toto bahwa, Ia merasa heran karena yang dilaporkan masyarakat lain sedangkan yang diperiksa lain. Hal ini disampaikan Guido Toto kepada saya bahwa Kepala Desa Leuntolu diduga telah menipu Tim Jaksa Kabupaten Belu,” pungkasnya.

Kedua, anggaran Dana Desa Tahun 2017 sebanyak Rp. 27.000.000 untuk BUMDES yang seharusnya dikelola oleh 3 orang badan pengurus BUMDES untuk mengelolanya namun diduga uang tersebut ada dikelola langsung oleh Kepala Desa.

Ketiga, pembangunan Jalan Usaha Tani di Dusun Kuanitas, anggaran dana Desa Tahun 2018, sampai hari ini pemasangan penahan belum selesai dan belum dilakukan pemadatan. Kalau kita lihat sekarang sedikit rata karena selalu dilalui kendaraan untuk muat hasil bumi.

Baca juga :  Gaston Investment Limited Dukung Pelaksanaan Lelang Eksekusi Hotel Kuta Paradiso

Keempat, pengadaan Meubeler untuk Paud Kuanitas, menggunakan anggaran dana Desa tahun 2018 sebesar Rp.16.000.000. Sementara Meubeler yang sudah diturunkan kursi ukuran kecil sebanyak 10 buah, Meja ukuran kecil sebanyak 10 buah, Meja Biro ada 3 buah dan 1 rak buku.

“Meja dan Kursi yang ada menggunakan dana kurang lebih Rp.12.000.000. Sedangkan lemari kayu 1 buah sampai dengan saat ini belum diturunkan,” tutur Ande.

Kelima, pembangunan irigasi dibelakang Kapela Sukabitetek menggunakan Dana Desa Anggaran Tahun Anggaran 2018 dengan Volumenya 600 meter. Namun yang sudah dikerjakan sampai saat ini sekitar 419 meter.

Keenam, pembangunan Paud Webutak menggunakan anggaran Dana Desa tahun 2019 dengan ukuran 6 x 7 dengan lokasi dana Rp. 343.000.000 namun bangunannya tidak sesuai ukuran. Sementara HOK tukang sebanyak Rp. 86.000.000 belum dibayar sepenuhnya oleh pihak Desa Leuntolu.

Baca juga :  Kapolres Belu Janji Akan Sidak Pangkalan Minyak Tanah β€œNakal”

Ketujuh, pembagunan 35 unit Lopo dengan anggaran dana desa tahun 2019, sebesar kurang lebih Rp.605.000.000 dengan rincian setiap unit Lopo biayanya Rp. 17.285.714.

“Pekerjaan Lopo ini tidak sesuai perencanaan. Lebih aneh lagi kerja tidak sampai selesai. Semsestinya tiang-tiang Lopo itu terbuat dari kayu balok dan diukir dengan motif Timor untuk 140 tiang balok Lopo, dan lantai dasarnya di floor dengan semen kasar dari Lopo pertama sampai ketiga puluh lima unit Lopo. Kami menduga ada penyelewengan dana desa yang besar dalam pembangunan Lopo tersebut.

Kedelapan, Anggaran dana desa tahun 2019 untuk bangun 2 unit rumah adat sebesar Rp.46.000.000. Satu unit sudah dibangun, sementara satunya belum dibangun sampai saat ini.

Kesembilan, bantuan dari dinas Ketahanan pangan sebesar Rp.200.000.000 untuk bangun lumbung desa. Namun diduga hanya sedikit saja uang tersebut digunakan. (Ronny)

Facebook Comments