Saturday, April 18, 2026

Top 5 This Week

Related Posts

Bantah Dugaan Kecelakaan dan Sebut TKP Kilo 8 Rekayasa, Keluarga Fransiskus Asten Terus Minta Polisi di Perbatasan RI-RDTL Ungkap Kematian Korban

ATAMBUA, The East Indonesia – Misteri kematian Fransiskus Xaverius Asten, masih terus menuai tanya besar dari pihak keluarga.

Pihak keluarga mendiang Fransiskus Xaverius Asten, selaku Kepala Pelaksana BPBD Belu waktu itu yang ditemukan meninggal dunia pada 9 November 2025 lalu, terus mendesak kepolisian mengungkap tabir kematian yang dinilai tidak wajar.

Aloysius Mau, Ketua Suku Mahehat Lahurus sekaligus sepupu kandung korban secara terbuka menyatakan keyakinannya bahwa kematian Frans di Kilometer 8 jalur Atapupu pada 9 November 2025 lalu bukanlah kecelakaan lalu lintas biasa, melainkan sebuah rekayasa.

Berdasarkan pengamatan langsung di lokasi penemuan jenazah, Aloysius mengungkapkan adanya tanda-tanda yang tidak wajar bagi sebuah kecelakaan motor.

Dirinya menyebut posisi jenazah ditemukan dalam kondisi tertelungkup dengan pakaian yang tersingkap, namun terlihat seperti “disimpan dengan rapi”.

“Kejadian tanggal 9 yang dikilo 8 itu kita sudah tahu persis soal beliau itu meninggal bukan karena kecelakaan berdasarkan tanda tanda yang ada di TKP. Kita lihat di TKP ini seperti dia tersimpan rapi. Maka sampai kita buat laporan ke pihak kepolisian untuk menyelidiki sampai masalah ini supaya para pelaku bisa diketahui,” pungkas Aloysius Mau, pada Jumat, 17 April 2026.

Satu fakta krusial yang ditegaskan Aloysius adalah keberadaan dua karung beras (ukuran 50 kg dan 10 kg) yang berada di dekat kepala dan kaki jenazah saat pertama kali ditemukan.

Anehnya, karung tersebut diduga tidak masuk dalam daftar barang bukti penyelidikan.

Pihak keluarga mencurigai bahwa korban kemungkinan besar dihabisi di tempat lain, dimasukkan ke dalam karung, lalu dibawa ke Kilometer 8 untuk dibuang.

Aloysius juga menyoroti posisi helm dan sandal korban yang letaknya sangat berjauhan, memperkuat dugaan adanya rekayasa tempat kejadian perkara (TKP).

Ketidakpastian hukum dalam kasus ini pun menyisakan luka mendalam bagi keluarga. Aloysius mengaku mereka kini hidup dalam bayang-bayang ketakutan.

“Kalau pihak kepolisian belum menemukan itu, kita macam sakit hati terus. Kita saudara ini mati seperti binatang saja, pelakunya siapa tidak tahu. Sekarang terjadi pada kita pun saudara, jangan sampai besok-besok kita yang lain lagi. Kami juga rasa terancam karena kejahatan ini hanya terjadi pada Saudara kami ini saja, atau masih ada target-target yang lain,” pinta Aloysius.

Keluarga pun telah meminta bantuan langsung ke Polda NTT untuk memperkuat tim Polres Belu dalam mengungkap dalang di balik tragedi ini.

Mereka berharap kolaborasi kepolisian dapat segera menyeret pelaku ke pengadilan agar rasa keadilan bagi almarhum dan keluarga besar dapat terpenuhi.

“Sampai saat ini kita telH minta bantuan ke Polda (NTT) dengan maksud membantu kerja sama dengan para polisi di Polres ini supaya sama sama bekerja untuk bisa menemukan para pelaku,” tutur Aloysius.

Untuk diketahui bahwa Almarhum Fransiskus Xaverius Asten yang memiliki alamat Jl. Pemuda RT 004/RW 002, Kelurahan Tulamalae, Kecamatan Atambua Barat dilaporkan hilang dan tercatat di Polres Belu dengan Nomor: LP/B/17/XI/2025/SPKT/POLRES BELU/POLDA NTT.

Dalam laporan yang dibuat pria berinisial MMT tersebut, menyebutkan bahwa Almarhum Fransiskus Xaverius Asten telah pergi dari rumah sejak 7 November 2025 sekitar pukul 18:55 WITA dengan menggunakan jaket sweater warna biru dan celana pendek jeans.

Proses berjalan, Fransiskus Xaverius Asten yang saat itu menjabat sebagai Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Belu pun ditemukan telah Meninggal Dunia pada Minggu 9 November 2025 di Kilo 8 jurusan Atapupu, Kabupaten Belu.(Rony)

Popular Articles