Empat Pembunuh Polisi Ini Diancam Mati

72

DENPASAR -Sidang perdana perkara dugaan pembunuhan berencana terhadap purnawirawan polisi Aiptu Made Suanda, Selasa (10/4) di PN Denpasar berlangsung dramatis.

Bahkan, isak tangis dan kejar-kejaran antara keluarga korban dan terdakwa berlangsung, mewarnai jalannya sidang.

Jaksa Wahyudi Ardika di depan majelis hakim I Gede Ginarsa mendakwa I Gede Ngurah Astika, Dewa Putu Alit Sudiasa alias Alit, Putu Veri Permadi alias Veri,

dan Dewa Made Budianto alias Tonges (ketiganya terdakwa dalam berkas terpisah) dengan dakwaan kombinasi, yakni dakwaan primer Pasal 340 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP

dan subsider Pasal 338 jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP. Atau kedua, Pasal 365 ayat (2) ke-2, ayat (3) KUHP dengan ancaman maksimal hukuman mati.

Meski dihadirkan bersama, namun empat terdakwa disidang terpisah. Sidang pertama untuk terdakwa Gede Ngurah Astika. Kemudian sidang kedua, bagi tiga terdakwa lain.

Sebagaimana diketahui, empat terdakwa terlibat aktif dalam kasus pembunuhan Aiptu Purn I Made Suanda.

Atas dakwaan tersebut, keempat terdakwa yang didampingi pengacaranya tidak mengajukan eksepsi atau nota keberatan. Sehingga, sidang tersebut dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi.

Baca juga :  Sebut Bali Murahan dan Ramah untuk LGBT di Medsos, Kristen Gray Ditangkap Pihak Imigrasi

Ada empat saksi yang dihadirkan JPU. Mereka antara lain paman korban I Nyoman Kanda, istri korban Ni Luh Rai Sukawati, tetangga di rumah kontrakan terdakwa atas nama Nyoman Wardana Adiputra,

Kwee Gandhi Ganisdhi selaku tuan rumah kontrakan terdakwa, dan Eko Suhermanto selaku petugas identifikasi dari Kepolisian.

Menariknya, sidang yang dihadiri pihak keluarga korban berlangsung dramatis dan tegang. Selain diwarnai isak tangis, keluarga korban yakni paman korban juga terlihat emosional.

Bahkan, di akhir sidang, paman korban sempat menyambangi para terdakwa dengan alasan ingin berkenalan dengan terdakwa.

Namun untuk menghindari peristiwa yang tak diinginkan, niat paman korban tersebut tidak diperkenankan.

Meski begitu, paman korban tetap membuntuti para terdakwa sampai ke ruang tahanan. Lagi-lagi upayanya gagal karena para terdakwa sudah masuk ke dalam ruang tunggu tahanan dan JPU berusaha menenangkan paman korban.

Dalam sidang yang dipimpin majelis hakim I Gede Ginarsa, yang berlangsung hingga sore kemarin cukup mendapatkan pengawasan yang ketat dari kepolisian. Pasalnya keluarga korban banyak yang datang dan begitu jengah ketika berhadapan dengan empat pelaku pembunuh Made Suanda yang lama bertugas di Polsek Dentim. Bahkan sejumlah keluarga korban, termasuk pamannya sempat emosi dan ingin mengejar pelaku. Namun empat terdakwa dijaga begitu ketat oleh polisi.

Baca juga :  Kapolri Listyo Sigit Akan Selektif Terapkan UU ITE

Gagal melampiaskan kemarahan pada terdakwa, keluarga korban kembali menangis dan ada yang berusaha ditenangkan keluarga lainnya.

Sementara dalam dakwaan disebutkan bahwa kasus ini berawal saat korban hendak menjual mobil Jazz DK 1985 CN yang saat itu dipajang di Jalan Dharmasaba, Badung. Terdakwa Ngurah Astika yang melintas di sana menghubungi korban menanyakan harga mobil. 14 Desember 2017 sore, Astika menghubungi temannya Dewa Budianto, dan anak istrinya, serta mengajak Putu Veri dan Dewa Alit Budiasa. Mereka diminta datng ke rumah kontrakan di Perum Graha Asri Persada, Penyalin, Kerambitan, Tabanan.

Besokhya 15 Desember, Ngurah Astika bersama istrinya pergi ke rumah kontrakan baru di Nuansa Utama-Nuansa Kori, Ubung, milik Kwee Gandhi Ganisdhi. Setelah semua dipersiapkan, terdakwa Astika menjemput korban pensiunan polisi itu diajak ke Nuansa Kori. Di sanalah mereke melakukan pembunuhan dan merampas mobil korban.

Baca juga :  Polres Belu Tetapkan 2 Tersangka Dugaan Penghinaan dalam Grup WhatsApp Arisan Online

Sebelum dibunuh, korban sempat diberi kopi bercampur obat tidur. Awalnya saat dianiaya Astika korban sempat melawan dan menggigit pelaku. Namun tiga teman yang lain ikut membantu memukul korban hingga korban tewas di Perum Nuansa Kori. Mobil korban kemudian dirampas dan dijual.

Untuk membuktikan dakwaan itu, kemarin JPU langsung menghadirlan lima orang saksi. Mereka adalah I Nyoman Kanda, Ni Luh Rai Sukawati, I Nyoman Wardana Adi Putra, Kwee Gandhi Ganisdhi dan dari identifikasi Eko. Apa yang disampaikan saksi di depan persidangan dibenarkan seluruhnya oleh ke empat terdakwa. Sidang kemudian akan dilanjutkan pekan depan.

Selanjutnya sidang ditunda dan akan dilanjutkan masih dengan pemeriksaan saksi.(*)

Laporan: Remigius Nahal

Facebook Comments